August 31, 2026 · Parenting

Nezha 2 dan Luka-Luka yang Tak Terucap di Dalam Keluarga

Refleksi Komunikasi Keluarga dari Dunia Dongeng dan Dewa

Oleh: Abdul Latief
Praktisi Komunikasi & Ayah dari Tiga Anak

Saat saya duduk bersama anak di ruang keluarga, menonton Nezha 2: The Awakening, tak pernah saya sangka bahwa di balik animasi aksi dan mitologi Tiongkok itu, tersembunyi pesan dalam tentang relasi orang tua dan anak—yang sering kali rumit, penuh luka, dan sayangnya, kerap dibiarkan menggantung dalam diam.

Nezha, tokoh sentral film ini, digambarkan bukan hanya sebagai pahlawan mitologis yang bergulat dengan kekuatan jahat, tapi juga sebagai anak muda yang diliputi trauma masa lalu. Ia menyimpan dendam terhadap orang tua yang dulu tidak membelanya, tidak memahami pergulatan batinnya, dan yang sempat menganggapnya sebagai ancaman.

Di tengah adegan pertempuran dan ledakan sihir, yang terasa justru adalah kegetiran yang akrab: tentang anak yang tidak pernah merasa cukup didengar dan orang tua yang tidak tahu cara menyampaikan cinta.

Komunikasi Emosional: Jembatan yang Sering Retak

Dalam teori komunikasi keluarga, dikenal konsep expressive communication—di mana anak dan orang tua bisa saling mengekspresikan emosi, ketakutan, harapan, dan bahkan kemarahan secara terbuka dan sehat. Sayangnya, banyak keluarga yang justru mengabaikan dimensi ini. Cinta ditunjukkan lewat larangan, perhatian dibungkus dalam bentakan, dan rasa bangga tak pernah sampai menjadi pujian.

Film Nezha 2 menyentil sisi ini dengan sangat kuat. Ada satu adegan ketika Nezha berteriak kepada ayahnya: “Mengapa kalian tidak percaya padaku?! Mengapa aku harus menjadi yang kalian mau, bukan diriku sendiri?” Seruan itu, meskipun datang dari dunia fantasi, mewakili jeritan banyak anak-anak hari ini yang tumbuh dengan luka karena tidak mendapat validasi dari orang tua.

Warisan Terbesar: Ruang Aman untuk Menjadi Diri Sendiri

Anak bukan hanya butuh dipenuhi secara fisik dan akademik. Mereka butuh ruang aman secara emosional—ruang di mana mereka boleh salah, boleh berbeda, dan tetap dicintai. Film ini menunjukkan bahwa Nezha bukan tidak ingin menjadi baik, tapi dia bingung bagaimana melakukannya jika terus dianggap buruk.

Konsep ini sejalan dengan pendekatan Positive Parenting, yang menekankan pentingnya komunikasi dua arah, empati, dan validasi emosi. Alih-alih hanya memberi perintah, orang tua diajak untuk menjadi pendengar aktif dan fasilitator dalam proses pencarian jati diri anak.

Saat Anak Menjadi Cermin Kita Sendiri

Sebagai orang tua, saya merasa tertampar. Ada sisi Nezha dalam anak-anak kita: keras kepala, meledak-ledak, kadang tak bisa dimengerti. Tapi jika kita jujur, banyak dari ledakan mereka adalah gema dari apa yang tak pernah kita izinkan untuk keluar: perasaan mereka yang tercekat, kekecewaan yang tak sempat tertutur, atau harapan yang terlanjur kita abaikan.

Kita ingin anak-anak yang patuh, berprestasi, dan ceria. Tapi kita lupa bahwa anak juga manusia—yang berhak marah, sedih, kecewa, dan takut. Dan tugas kita bukan memadamkan emosi itu, tapi menemani mereka melewatinya.

Penutup: Mendengarkan Adalah Tindakan Cinta yang Paling Sederhana

Nezha 2 bukan sekadar film aksi dan fantasi. Ia adalah cermin kecil tentang komunikasi keluarga—betapa mudahnya cinta menjadi tak terdengar, betapa beratnya luka yang tak dibicarakan.

Setelah film selesai, saya memeluk anak saya dan bertanya, “Apa kamu pernah merasa seperti Nezha?” Ia diam, lalu menjawab pelan, “Kadang… waktu aku marah, Ayah nggak dengar.” Jawaban itu seperti panah yang tepat menancap di hati. Tapi saya bersyukur—karena ia berkata jujur, dan saya belajar mendengar.

Mungkin itu awal dari komunikasi yang lebih sehat: bukan dari mulut ke mulut, tapi dari hati ke hati.

Referensi:

Nezha 2: The Awakening (2021)

Koerner & Fitzpatrick. (2002). Understanding Family Communication Patterns.

Pruett, Kyle D. (2000). Fatherneed: Why Father Care is as Essential as Mother Care for Your Child.

UNICEF. (2019). Positive Parenting Guidelines