August 31, 2026 · Komunikasi

Duduk Dekat, Hidup Berjauhan

Suatu sore di sebuah ruang tunggu bandara, saya melihat pemandangan yang sebenarnya cukup biasa. Beberapa orang duduk berdekatan di deretan kursi yang sama. Jarak mereka mungkin hanya beberapa puluh sentimeter. Ada yang bersama pasangan, ada yang bersama teman, dan ada pula yang tampaknya rekan kerja yang sedang melakukan perjalanan.

Namun yang menarik bukanlah kedekatan tempat duduk mereka, melainkan suasana yang terjadi di antara mereka.

Masing-masing sibuk dengan layar ponsel.
Ada yang membaca pesan.
Ada yang menonton video pendek.
Ada yang menelusuri media sosial.

Secara fisik mereka duduk sangat dekat. Tetapi jika dilihat dari cara mereka berinteraksi, dunia yang mereka jalani tampak sangat berbeda.

Fenomena ini semakin sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari: orang-orang berada dalam ruang yang sama, tetapi perhatian mereka berada di tempat yang berbeda.

Kedekatan fisik tidak selalu diikuti oleh kedekatan pengalaman.

Dalam kajian komunikasi modern, situasi ini dapat dijelaskan melalui konsep Networked Individualism yang diperkenalkan oleh Barry Wellman. Wellman menjelaskan bahwa masyarakat modern semakin bergerak dari pola kehidupan berbasis kelompok menuju pola kehidupan berbasis individu yang terhubung melalui jaringan digital.

Dalam masyarakat jaringan ini, seseorang dapat berada di tengah banyak orang, tetapi tetap menjalani aktivitas komunikasinya secara individual melalui perangkat digital.

Seseorang bisa duduk bersama teman-temannya, tetapi pada saat yang sama ia juga sedang terhubung dengan percakapan lain di grup pesan, media sosial, atau jaringan profesionalnya.

Akibatnya, perhatian manusia menjadi terbagi ke banyak arah sekaligus.

Fenomena ini juga berkaitan dengan konsep Mediated Communication, yang banyak dibahas dalam kajian komunikasi digital. Salah satu tokoh yang mengembangkan pemahaman mengenai hubungan manusia dalam konteks media adalah Manuel Castells melalui gagasannya tentang Network Society.

Castells menjelaskan bahwa dalam masyarakat jaringan, komunikasi manusia semakin dimediasi oleh teknologi. Interaksi sosial tidak lagi hanya terjadi melalui pertemuan tatap muka, tetapi juga melalui jaringan digital yang melampaui batas ruang dan waktu.

Hal ini membawa banyak kemudahan. Kita dapat berkomunikasi dengan orang yang berada di kota lain, negara lain, bahkan benua lain dalam hitungan detik.

Namun pada saat yang sama, muncul paradoks kecil dalam kehidupan sosial kita.

Kita bisa sangat terhubung dengan orang yang jauh.
Tetapi kadang kurang hadir bagi orang yang berada tepat di samping kita.

Situasi ini tidak selalu terjadi karena kurangnya kepedulian. Sering kali hal ini terjadi karena perhatian manusia kini harus berbagi ruang dengan begitu banyak arus informasi yang datang secara bersamaan.

Notifikasi pesan.
Pembaruan media sosial.
Email pekerjaan.
Berita yang terus berganti.

Semua itu menarik perhatian kita untuk berpindah dari satu konteks ke konteks lain dalam waktu yang sangat singkat.

Dalam perspektif komunikasi interpersonal, kehadiran penuh—atau presence—merupakan salah satu elemen penting dalam membangun hubungan yang bermakna. Ketika seseorang benar-benar hadir dalam sebuah interaksi, ia tidak hanya berada di tempat yang sama secara fisik, tetapi juga memberikan perhatian yang utuh kepada orang yang sedang bersamanya.

Namun ketika perhatian terbagi, kehadiran menjadi tidak sepenuhnya utuh.

Orang tetap duduk berdekatan.
Tetapi pengalaman hidup yang sedang mereka jalani terasa berjauhan.

Mungkin karena itu, fenomena “duduk dekat, hidup berjauhan” bukan sekadar persoalan teknologi. Ia lebih berkaitan dengan bagaimana manusia mengelola perhatian di tengah dunia yang semakin penuh distraksi.

Teknologi tidak selalu menjauhkan manusia. Dalam banyak kasus, justru teknologi membantu mempertemukan orang yang sebelumnya sulit terhubung.

Namun dalam interaksi sehari-hari, kita tetap memiliki pilihan kecil yang sederhana.

Kadang kita bisa menunda sejenak untuk tidak melihat layar ponsel.
Kadang kita bisa memberi perhatian lebih kepada orang yang sedang duduk bersama kita.
Kadang kita bisa memilih untuk benar-benar hadir dalam percakapan yang sedang terjadi.

Karena pada akhirnya, hubungan manusia tidak hanya dibangun oleh kedekatan tempat.

Hubungan dibangun oleh kehadiran yang benar-benar diberikan kepada satu sama lain.

Dan sering kali, jarak yang paling jauh bukanlah jarak antara dua kota atau dua negara.

Melainkan jarak antara dua orang yang sebenarnya sedang duduk sangat dekat.

—-

Referensi

Wellman, B. (2001). Physical Place and Cyberplace: The Rise of Networked Individualism. International Journal of Urban and Regional Research, 25(2), 227–252.

Castells, M. (2010). The Rise of the Network Society. Wiley-Blackwell.

Baym, N. K. (2015). Personal Connections in the Digital Age. Polity Press.

Turkle, S. (2015). Reclaiming Conversation: The Power of Talk in a Digital Age. Penguin Press.