Belajar dari Film Animasi "Jumbo" (2025)
Oleh: Abdul Latief
Praktisi Komunikasi dan Pengasuhan Anak
Setiap anak tumbuh dengan cerita—baik yang mereka dengar, alami, maupun yang mereka yakini. Dalam film animasi terbaru berjudul Jumbo (2025) produksi Visinema Studios, kita diajak menyelami dunia Don, seorang anak laki-laki yang memikul warisan emosional dari kedua orang tuanya yang telah tiada, hanya melalui sebuah buku dongeng berjudul Bubble Island.
Meski dikemas dalam bentuk cerita animasi penuh warna, Jumbo menyimpan pesan mendalam tentang komunikasi dalam pengasuhan anak. Ini bukan sekadar kisah keberanian atau imajinasi, melainkan refleksi tentang bagaimana anak-anak membentuk jati diri mereka lewat nilai-nilai yang diwariskan—kadang bukan lewat kata, tetapi lewat cerita dan keteladanan.
Komunikasi yang Bertahan dalam Diam
Don, tokoh utama dalam film Jumbo, tumbuh tanpa kehadiran fisik orang tuanya. Namun, nilai-nilai yang mereka tanamkan tetap hidup dalam dirinya melalui buku dongeng peninggalan mereka. Kisah ini memperlihatkan bahwa komunikasi dalam keluarga tidak hanya terjadi secara lisan atau langsung, melainkan juga dalam bentuk simbolik dan naratif.
Dalam perspektif komunikasi parenting, ini sejalan dengan konsep komunikasi transgenerasional—yaitu penyampaian nilai, norma, dan harapan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui tradisi, cerita, dan warisan spiritual. Bahkan dalam Al-Qur’an, kita temukan kisah Luqman yang memberi nasihat kepada anaknya sebagai bentuk komunikasi abadi (QS Luqman: 13–19). Nilai dari orang tua yang dikomunikasikan secara bijak dapat menjadi kompas hidup anak jauh setelah orang tua tiada.
Peran Orang Tua dalam Membentuk Narasi Anak
Don menghadapi tekanan sosial dari lingkungan sebayanya. Ia sering disepelekan dan diragukan. Namun ia bangkit, menemukan kekuatannya, dan berani menampilkan karya seni yang berakar pada cerita masa kecilnya. Di sinilah terlihat bagaimana narasi internal seorang anak dibentuk oleh pengalaman masa lalu—khususnya oleh bagaimana orang tua (bahkan yang sudah tiada) meninggalkan makna hidup bagi anaknya.
Menurut Albert Bandura (1977) dalam teori pembelajaran sosialnya, anak-anak tidak hanya belajar dari apa yang diajarkan secara langsung, tetapi juga dari apa yang mereka amati dan maknai. Buku dongeng Bubble Island dalam film Jumbo berperan seperti “model” yang terus hidup dalam benak Don—menjadi sandaran emosi dan moral.
Ketika Komunikasi Tidak Harus Menggurui
Film ini juga mengingatkan kita bahwa mendidik tidak selalu harus dalam bentuk instruksi langsung. Komunikasi yang bermakna justru seringkali muncul dalam bentuk cerita, pelukan, permainan, bahkan buku yang dibacakan sebelum tidur. Orang tua yang mampu menyampaikan nilai melalui kisah dan imajinasi justru akan lebih mudah menjangkau hati anak-anak.
Hal ini sejalan dengan pendekatan komunikasi naratif dalam parenting, di mana orang tua menjadi “pendongeng kehidupan” anak-anaknya. Bukan hanya soal bagaimana anak belajar bicara, tapi juga bagaimana anak bicara pada dirinya sendiri saat menghadapi dunia—narasi ini adalah buah dari komunikasi pengasuhan yang baik.
Relevansi bagi Orang Tua Masa Kini
Di tengah dunia yang serba cepat dan digital, tantangan terbesar para orang tua justru terletak pada kehadiran yang bermakna. Banyak anak tumbuh di rumah yang ramai, namun miskin komunikasi. Mereka mungkin disekolahkan di tempat terbaik, diberi gawai dan fasilitas, namun kehilangan percakapan batiniah dengan orang tua.
Film Jumbo menjadi pengingat lembut bahwa anak-anak tidak hanya butuh orang tua yang hadir secara fisik, tapi juga secara emosional dan spiritual. Warisan terbaik bukan harta, melainkan nilai dan arah hidup yang dapat mereka pegang saat orang tua tak lagi ada.
Penutup
Film Jumbo adalah dongeng modern yang menyentuh sisi terdalam dalam relasi anak dan orang tua. Bagi para ayah dan ibu, ini menjadi cermin: apa cerita yang akan kita wariskan? Apakah anak-anak kita memiliki cukup “modal cerita” untuk mengenali jati diri mereka, menghadapi tantangan hidup, dan tetap menjadi pribadi yang utuh dan kuat?
Mari menjadikan komunikasi dalam keluarga bukan hanya rutinitas, tapi juga ruang sakral untuk saling memahami, menguatkan, dan menumbuhkan jiwa anak-anak kita—lewat kata, pelukan, doa, dan cerita