Ucapan Lebaran yang Serentak
Ketika Silaturahmi Berubah Menjadi Broadcast
Menjelang hari raya Idul Fitri, ada satu pemandangan yang hampir selalu muncul di berbagai grup WhatsApp. Sejak malam takbiran hingga pagi hari raya, layar ponsel kita dipenuhi oleh berbagai pesan ucapan.
Sebagian berupa teks panjang dengan kalimat yang indah.
Sebagian dilengkapi gambar bertema Lebaran.
Sebagian lagi berbentuk video atau kartu ucapan digital.
Menariknya, pesan-pesan tersebut sering kali terlihat sangat mirip satu sama lain. Kalimatnya sama, gambarnya sama, bahkan urutan katanya pun sering tidak jauh berbeda.
Tidak jarang kita menyadari bahwa pesan tersebut sebenarnya adalah broadcast message—satu pesan yang dikirim sekaligus ke banyak orang atau banyak grup.
Fenomena ini telah menjadi bagian dari budaya komunikasi digital setiap kali hari raya tiba.
Dalam satu sisi, kebiasaan ini menunjukkan sesuatu yang positif. Teknologi memungkinkan seseorang untuk tetap menjalin silaturahmi dengan banyak orang sekaligus, bahkan dengan mereka yang jarang bertemu secara langsung.
Melalui satu pesan, seseorang dapat menyampaikan permohonan maaf dan ucapan selamat kepada puluhan bahkan ratusan orang dalam waktu yang sangat singkat.
Namun di sisi lain, muncul pertanyaan kecil yang cukup menarik untuk direnungkan: apakah makna silaturahmi tetap sama ketika ucapan Lebaran dikirim secara massal?
Dalam kajian komunikasi digital, fenomena ini dapat dipahami melalui konsep Computer-Mediated Communication (CMC) yang dikembangkan oleh Joseph B. Walther. CMC menjelaskan bagaimana teknologi mengubah cara manusia berinteraksi, termasuk cara mereka menyampaikan emosi, perhatian, dan hubungan sosial.
Ketika komunikasi berpindah ke media digital, banyak interaksi menjadi lebih cepat, lebih praktis, dan dapat menjangkau lebih banyak orang.
Namun dalam proses tersebut, personalisasi pesan kadang berkurang.
Ucapan yang dulunya disampaikan secara langsung—dengan berjabat tangan, bertatap muka, dan berbicara dari hati ke hati—kini sering berubah menjadi pesan yang dikirim secara serentak kepada banyak orang.
Fenomena ini juga dapat dilihat melalui perspektif Ritual Communication yang diperkenalkan oleh James W. Carey. Carey menjelaskan bahwa komunikasi tidak selalu bertujuan untuk menyampaikan informasi baru, tetapi juga berfungsi sebagai ritual sosial yang menjaga kebersamaan dalam sebuah komunitas.
Ucapan selamat hari raya sebenarnya adalah bagian dari ritual komunikasi tersebut.
Ia menjadi cara masyarakat memperbarui hubungan sosial, menegaskan kembali nilai kebersamaan, serta memperkuat rasa saling memaafkan.
Dalam konteks ini, broadcast message sebenarnya tetap memiliki fungsi simbolik. Ia menunjukkan bahwa seseorang masih mengingat relasi sosial yang dimilikinya, meskipun tidak selalu sempat menyapa secara personal.
Namun menariknya, dalam budaya komunikasi digital, semakin banyak orang juga mulai merasakan perbedaan kecil antara pesan yang dikirim secara umum dan pesan yang ditulis secara khusus.
Pesan broadcast terasa seperti sapaan kolektif.
Sementara pesan personal terasa lebih hangat dan dekat.
Perbedaan ini bukan soal benar atau salah, melainkan tentang tingkat kedekatan emosional yang dirasakan dalam komunikasi.
Di tengah perkembangan teknologi yang memudahkan segala hal, kita memang sering dihadapkan pada pilihan antara kecepatan dan kedalaman dalam berkomunikasi.
Broadcast message memberikan efisiensi.
Namun pesan yang ditulis secara khusus sering menghadirkan kehangatan yang berbeda.
Karena itu, mungkin fenomena ucapan Lebaran melalui broadcast bukanlah sesuatu yang perlu diperdebatkan. Ia adalah bagian dari cara baru manusia beradaptasi dengan teknologi komunikasi.
Namun di balik semua kemudahan itu, barangkali ada satu hal kecil yang tetap perlu kita jaga.
Bahwa silaturahmi bukan hanya tentang mengirim pesan, tetapi juga tentang memberi perhatian.
Kadang perhatian itu hadir melalui ucapan yang sederhana.
Kadang melalui pesan yang ditulis khusus untuk seseorang.
Kadang melalui percakapan singkat yang lebih personal.
Karena pada akhirnya, dalam tradisi Idul Fitri yang sarat makna, yang paling penting bukan hanya seberapa banyak ucapan yang kita kirimkan.
Melainkan seberapa tulus hubungan yang ingin kita jaga.
***
Di penghujung tulisan ini, izinkan saya menyampaikan ucapan yang mungkin juga sederhana, namun lahir dari niat yang tulus.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H.
Mohon maaf lahir dan batin.
Semoga hari kemenangan ini membawa kedamaian, mempererat silaturahmi, serta menghadirkan keberkahan bagi kita semua.
Salam hangat,
Abdul Latief dan Keluarga
—
Referensi
Walther, J. B. (1996). Computer-Mediated Communication: Impersonal, Interpersonal, and Hyperpersonal Interaction. Communication Research, 23(1), 3–43.
Carey, J. W. (1989). Communication as Culture: Essays on Media and Society. Routledge.
Baym, N. K. (2015). Personal Connections in the Digital Age. Polity Press.
Couldry, N., & Hepp, A. (2017). The Mediated Construction of Reality. Polity Press.