August 31, 2026 · Parenting

The Wild Robot: Merangkul Nilai-Nilai Kemanusiaan di Era Robotik

Oleh: Abdul Latief
Praktisi Komunikasi Keluarga & Pengamat Budaya Populer

Saya masih ingat betul wajah terpukau anak saya, Salman, saat menonton film The Wild Robot. Di layar, kami melihat sosok Rozzum unit 7134—atau lebih dikenal dengan Roz, sebuah robot yang terdampar di sebuah pulau setelah kapalnya karam. Sebuah kisah yang sederhana, namun meninggalkan jejak emosional yang begitu dalam bagi saya sebagai seorang ayah.

Roz bukanlah robot biasa. Ia tak hanya bertahan hidup, tetapi juga belajar. Belajar berbicara, belajar mengenal emosi, belajar merawat seekor anak angsa yatim piatu yang kemudian ia anggap sebagai anak sendiri. Dalam proses itulah The Wild Robot berubah dari film bertema petualangan menjadi kisah menyentuh tentang pengasuhan, hubungan lintas makhluk, dan esensi kemanusiaan yang melampaui bentuk tubuh dan kode logika.

Ketika Orang Tua Harus Belajar Ulang Menjadi Manusia

Dalam teori Social Learning dari Albert Bandura (1977), anak-anak belajar dari meniru perilaku yang mereka lihat. Uniknya, dalam film ini justru Roz yang belajar dari binatang-binatang liar di sekelilingnya. Ia menyerap cara hidup mereka, memahami bahasa mereka, bahkan menerapkan strategi pengasuhan secara naluriah.

Situasi ini menjadi cermin bagi para orang tua masa kini. Kita hidup dalam dunia serba otomatis, dengan teknologi yang mendekati kecerdasan buatan. Namun, di tengah semua itu, anak-anak tetap memerlukan sentuhan emosional, kepekaan, dan kehadiran yang tak tergantikan oleh mesin mana pun.

Roz mengajarkan bahwa menjadi “orang tua” tidak selalu harus dimulai dari pemahaman sempurna. Terkadang, yang kita butuhkan hanyalah kesediaan untuk belajar bersama, bertumbuh bersama, dan mencintai tanpa syarat.

Pengasuhan di Tengah Alam dan Teknologi

The Wild Robot juga menyuguhkan kontras antara dunia alami dan dunia buatan. Pulau liar yang menjadi tempat tinggal Roz menggambarkan kesederhanaan, kekacauan, sekaligus kebijaksanaan alam. Di sinilah peran Roz sebagai “ibu” diuji. Ia merawat Brightbill, anak angsa yang ia besarkan sejak telur, dengan penuh dedikasi meskipun dirinya tak diciptakan untuk itu.

Konsep parental presence atau kehadiran orang tua secara utuh—sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Daniel Siegel (2011)—sangat relevan di sini. Meski Roz adalah robot, ia hadir penuh dalam kehidupan Brightbill. Ia mendampingi, melindungi, dan memberi ruang bagi Brightbill untuk menjelajahi dunia. Bukankah itu juga yang paling dibutuhkan anak-anak kita saat ini?

Membesarkan Anak untuk Dunia yang Tak Kita Kenal

Di titik akhir cerita, Roz menghadapi dilema: tetap bersama Brightbill atau kembali “ke dunia asal” tempat ia diciptakan. Pilihan ini menyentuh satu sisi penting dari peran orang tua—yaitu melepaskan.

Kita membesarkan anak-anak kita bukan untuk hidup dalam dunia kita, tetapi untuk bertahan dan berkembang di dunia mereka sendiri. Film ini memberi gambaran simbolik bagaimana seorang “ibu” robot pun bisa mengalami proses emosional ini—sesuatu yang sangat manusiawi.

Narasi Personal: Belajar Empati dari Roz

Sepulang dari bioskop, Salman dengan polosnya bertanya, “Pa, kalau aku jadi robot, bisa nggak aku punya hati kayak Roz?”

Saya menjawab, “Kamu bukan robot, Nak. Tapi pertanyaanmu itu yang justru menunjukkan bahwa kamu sudah punya hati—dan itu yang paling penting dalam hidup.”

Percakapan singkat itu meneguhkan saya bahwa film, dalam kemasannya yang ringan dan visual, bisa menjadi jembatan komunikasi antara orang tua dan anak. Bukan hanya tentang cerita, tetapi tentang nilai-nilai yang diperbincangkan sesudahnya: kasih sayang, empati, dan pilihan-pilihan hidup.

Kesimpulan: Menjadi Orang Tua dalam Dunia yang Liar dan Modern

The Wild Robot adalah alegori pengasuhan modern. Dunia mungkin makin liar, cepat, dan tak terduga—tapi anak-anak kita tetap memerlukan cinta yang stabil, arahan yang jelas, dan kehangatan yang konsisten.

Sebagai orang tua, kita ditantang untuk menjadi “Roz”: belajar seiring waktu, membuka diri terhadap perubahan, dan terus mengupayakan yang terbaik meski tidak sempurna. Karena seperti Roz, kita semua sedang menjalani perjalanan untuk menjadi manusia yang lebih baik—melalui cinta yang kita berikan kepada anak-anak kita.

Referensi:

Bandura, A. (1977). Social Learning Theory

Siegel, D. & Hartzell, M. (2011). Parenting from the Inside Out

Brown, P. (2024). The Wild Robot (Film Adaptasi dari Novel Peter Brown)