Setiap kali memasuki masa liburan sekolah, ada satu pertanyaan yang hampir selalu muncul.
“Liburan sekolah ini pergi ke mana?”
Pertanyaan yang sederhana. Bahkan sering kali hanya basa-basi. Namun tanpa disadari, pertanyaan ini kadang menghadirkan tekanan tersendiri bagi sebagian orang.
Karena setelah pertanyaan itu biasanya muncul cerita lanjutan.
Ada yang akan berlibur ke Jepang.
Ada yang ke Korea.
Ada yang ke Eropa.
Ada yang mengunjungi destinasi wisata terkenal di dalam negeri.
Ada yang menginap di hotel berbintang.
Ada yang membagikan foto-foto perjalanan di media sosial.
Lalu tanpa sadar, liburan berubah menjadi sesuatu yang harus “terlihat”.
Bukan lagi tentang beristirahat.
Tetapi tentang menunjukkan.
Bukan lagi tentang menikmati waktu.
Tetapi tentang membuktikan bahwa kita juga pergi ke suatu tempat.
Akibatnya, musim liburan sering kali menghadirkan fenomena yang menarik.
Bandara penuh sesak.
Jalan tol macet berjam-jam.
Tempat wisata dipadati pengunjung.
Harga tiket melonjak.
Hotel penuh.
Dan media sosial dipenuhi foto-foto perjalanan.
Di sisi lain, ada pula orang-orang yang tidak bisa ikut dalam euforia tersebut.
Ada yang tetap harus bekerja.
Ada yang memiliki keterbatasan waktu.
Ada yang memiliki prioritas keuangan lain.
Ada yang memilih tetap di rumah.
Dan sering kali mereka merasa seolah-olah sedang “kehilangan sesuatu”.
Padahal belum tentu demikian.
Karena sesungguhnya kita perlu mendefinisikan ulang apa itu liburan.
Apakah liburan harus selalu berarti bepergian jauh?
Apakah liburan harus selalu identik dengan tiket pesawat, hotel, dan destinasi wisata?
Ataukah sebenarnya makna liburan jauh lebih sederhana dari itu?
Saya teringat sebuah ungkapan yang cukup populer dalam tradisi Islam:
“Intiqoolul ’amal ilal ’amalil aakhor.”
Yang secara sederhana dapat dimaknai sebagai:
“Perpindahan dari satu aktivitas menuju aktivitas lainnya.”
Makna ini sangat menarik.
Karena ternyata istirahat tidak selalu berarti tidak melakukan apa-apa.
Kadang kita merasa lelah bukan karena terlalu banyak aktivitas.
Tetapi karena terlalu lama melakukan aktivitas yang sama.
Seorang karyawan yang setiap hari berkutat dengan laporan mungkin merasa segar ketika berkebun.
Seorang guru yang setiap hari mengajar mungkin merasa rileks ketika memasak.
Seorang pebisnis mungkin merasa tenang ketika memancing.
Seorang pelajar mungkin merasa bahagia ketika bermain bersama keluarga.
Aktivitasnya berbeda.
Tetapi efeknya sama:
menyegarkan pikiran.
Itulah hakikat liburan.
Perubahan suasana.
Perubahan ritme.
Perubahan aktivitas.
Bukan semata-mata perubahan lokasi.
Karena itu, sebenarnya liburan tidak harus menunggu liburan sekolah.
Tidak harus menunggu akhir tahun.
Tidak harus menunggu tiket promo.
Tidak harus menunggu ke luar negeri.
Liburan bisa dilakukan kapan saja.
Bahkan dalam bentuk yang sangat sederhana.
Saya sering menemukan kebahagiaan dari hal-hal yang tidak spektakuler.
Menikmati kopi di pagi hari tanpa terburu-buru.
Menonton film bersama keluarga.
Mengantar anak bermain.
Membaca buku yang sudah lama tertunda.
Menulis artikel.
Berjalan santai bersama pasangan.
Atau sekadar menikmati malam tanpa agenda apa pun.
Bagi sebagian orang, itu mungkin bukan liburan.
Tetapi bagi saya, itu adalah bentuk liburan yang sesungguhnya.
Karena yang beristirahat bukan hanya tubuh.
Tetapi juga pikiran dan jiwa.
Menariknya, banyak penelitian psikologi menunjukkan bahwa kebahagiaan sering kali tidak ditentukan oleh seberapa jauh kita bepergian, tetapi oleh kualitas pengalaman yang kita rasakan.
Seseorang bisa menghabiskan puluhan juta rupiah untuk berlibur ke luar negeri namun tetap merasa lelah.
Sebaliknya, seseorang bisa menghabiskan akhir pekan sederhana bersama keluarga dan merasa sangat bahagia.
Karena yang dicari manusia sebenarnya bukan destinasi.
Melainkan makna.
Mungkin karena itulah saya mulai memandang liburan secara berbeda.
Saya tidak lagi melihatnya sebagai sebuah kewajiban yang harus dilakukan saat musim liburan tiba.
Saya melihatnya sebagai kebutuhan untuk menyegarkan diri yang bisa dilakukan kapan saja.
Terkadang di hotel.
Terkadang di rumah.
Terkadang di perjalanan.
Terkadang hanya di ruang keluarga.
Yang terpenting bukan seberapa jauh kita pergi.
Tetapi apakah hati kita ikut beristirahat.
Karena pada akhirnya, liburan terbaik bukan selalu tentang pergi ke tempat yang jauh.
Melainkan tentang menemukan kembali ketenangan yang selama ini mungkin hilang di tengah kesibukan.
Dan sering kali, ketenangan itu ternyata tidak berada di negara lain.
Tidak berada di kota lain.
Tidak berada di destinasi wisata yang viral.
Tetapi justru berada sangat dekat.
Di rumah.
Di tengah keluarga.
Di dalam diri kita sendiri.
Referensi
The Happiness Advantage (2010).
Martin Seligman, Flourish (2011).
Csikszentmihalyi, M. (1990). Flow: The Psychology of Optimal Experience.
Al-Ghazali. Ihya’ Ulumuddin (pembahasan tentang keseimbangan aktivitas, istirahat, dan penyegaran jiwa).
Konsep populer dalam tradisi pendidikan Islam: “Intiqoolul ’amal ilal ’amalil aakhor” (perpindahan dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya sebagai bentuk penyegaran dan rekreasi).